GirlUp! UNAIR Kembali Hadir dengan Edukasi Cegah Perkawinan Anak

    GirlUp! UNAIR Kembali Hadir dengan Edukasi Cegah Perkawinan Anak
    Dr Arri Handayani S Psi M Si dalam Penyuluhan Konsekuensi Perkawinan Anak, Sabtu (16/07/2022).

    SURABAYA – Isu perkawinan anak menjadi problematika yang sayangnya masih jadi tantangan hingga kini. Dengan risiko serta faktor pendorong yang begitu kompleks, diperlukan upaya konsisten untuk mengedukasi masyarakat mengenai pencegahan perkawinan anak. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh organisasi mahasiswa independen GirlUp! Universitas Airlangga (UNAIR).

    Dalam webinar

    WARTAHAJI.COM
    market.biz.id WARTAHAJI.COM
    20% Rp 125.000
    Beli sekarang!

    bertajuk #ChildMarriagePreventionSquad: Penyuluhan Konsekuensi Perkawinan Anak, GirlUp! mengundang berbagai pembicara sesuai kepakarannya. Salah satunya adalah Dr Arri Handayani SPsi MSi, Kepala Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak (PKKPA).

    “Perkawinan anak merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri pada usia yang masih muda atau remaja, ” ujar Arri.

    Beragam Faktor

    Menurut Arri, Sabtu (16/07/2022) terdapat beragam faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan anak. Pertama, latar belakang ekonomi keluarga yang tidak mendukung. Akibat tidak mampu disekolahkan, anak perempuan akhirnya dilihat lebih baik untuk dinikahkan saja pada keluarga yang lebih mampu.

    Faktor berikutnya adalah berkaitan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Apabila anak perempuan tidak segera menikah, maka banyak timbul anggapan dan kepercayaan bahwa ia akan menjadi perawan tua. Selain itu, faktor pendidikan juga berpengaruh. Anak perempuan yang tidak berkesempatan mengakses pendidikan akan lebih rentan jatuh dalam perkawinan anak.

    Dampak Negatif

    WARTASEKOLAH.COM
    market.biz.id WARTASEKOLAH.COM
    20% Rp 125.000
    Beli sekarang!

    Arri menekankan bahwa perkawinan anak dapat mengakibatkan berbagai macam dampak negatif pada anak perempuan. Misalnya saja dari segi biologis. Ketika perempuan menikah di usia anak, ia akan mendapatkan risiko komplikasi pada kehamilan. Komplikasi ini dapat hadir dalam bentuk persalinan macet hingga konsekuensi kesehatan pada bayi. Sementara itu, aspek psikologis dari anak perempuan ini akan banyak terganggu.

    Ilustrasi aksi anti perkawinan anak. (Foto: Tempo)

    Espresso shot Boba
    market.biz.id Espresso shot Boba
    13% Rp 6.300
    Beli sekarang!

    “Punya anak dan berumah tangga akan mengakibatkan anak perempuan kehilangan masa remajanya. Masa-masa yang membahagiakan dengan teman sebaya akan hilang, dan risiko KDRT (kekerasan dalam rumah tangga, Red) akan lebih besar, ” jelas alumni doktor Universitas Gadjah Mada tersebut.

    Belum lagi, menurut Arri, secara luas perkawinan anak merupakan salah satu bentuk pelanggengan budaya patriarki yang ada di masyarakat. Perempuan selalu dipandang sebagai warga kelas dua yang kerap menjadi objek kepemilikan laki-laki dalam ikatan pernikahan. Sehingga, perempuan akan kehilangan lebih banyak peluang untuk berpendidikan dan berkarir.

    Diperlukan Upaya Pencegahan

    Arri mengatakan bahwa diperlukan upaya pencegahan yang komprehensif dan sinergis dalam menangani perkawinan anak. Selain edukasi pada anak dan remaja, edukasi pada orangtua juga dibutuhkan agar tidak menjerumuskan anak pada perkawinan anak. Selain itu, pemerintah dapat turut serta dalam melakukan program kerja pemberdayaan perempuan yang akan memperkuat posisi perempuan dalam keluarga pula.

    “Menikah merupakan peristiwa yang dilakukan di usia yang siap secara fisik dan mental, termasuk segala risikonya, ” tutup dosen program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Semarang tersebut. (*)

    BERITATERBARU.CO.ID
    market.biz.id BERITATERBARU.CO.ID
    20% Rp 125.000
    Beli sekarang!

    Penulis: Deanita Nurkhalisa

    Editor: Binti Q. Masruroh

    surabaya
    Achmad Sarjono

    Achmad Sarjono

    Artikel Sebelumnya

    Pakar Ekonomi Kreatif UNAIR Ungkap Tantangan...

    Artikel Berikutnya

    Kerusuhan di Babarsari, Pakar UNAIR Paparkan...

    Berita terkait

    Peringkat

    Profle

    Achmad Sarjono verified

    Syafruddin Adi

    Syafruddin Adi verified

    Postingan Bulan ini: 148

    Postingan Tahun ini: 1147

    Registered: Apr 8, 2021

    Afrizal

    Afrizal verified

    Postingan Bulan ini: 112

    Postingan Tahun ini: 688

    Registered: May 25, 2021

    Narsono Son

    Narsono Son verified

    Postingan Bulan ini: 59

    Postingan Tahun ini: 263

    Registered: Jul 9, 2020

    Ryawan Saiyed

    Ryawan Saiyed verified

    Postingan Bulan ini: 45

    Postingan Tahun ini: 345

    Registered: Nov 23, 2021

    Profle

    Narsono Son verified

    Lapas Pasir Putih Nusakambangan Awali Bulan Agustus Dengan Coffee Break Bareng Kalapas
    Bahas Tata Cara Persidangan, Kapolres Sumbawa Hadiri Rapat dengan APH
    Berikan Motivasi Warga, Bhabinkamtibmas Desa Luk Ikut Gotong Royong Bersama Warga
    Sebagai Pembina Upacara, Kanit Binmas Polsek Plampang Berikan Motivasi Ke Pelajar

    Rekomendasi

    Danrem 084/Bhaskara Jaya Serahkan  Trophy Juara Satu Kompetisi Sepak Bola PSSI Liga Santri Piala KASAD
    Dari Puncak, AHY Minta Seluruh Kader Demokrat Persiapkan Upaya Raih Kemenangan di 2024
    Mas Dhito Beri Pelatihan Penguatan SDM BUMDes se Kab Kediri
    Kapolda Jatim Menerima Kunker Tim Kompolnas RI di Polda Jatim
    Program SIM Cak Bhabin Polrestabes Surabaya Permudah Para Disabilitas dan Masyarakat Buat Sim Baru

    Ikuti Kami